Kamis, 23 April 2015

KISAH JEJAK WALI SONGO





Menyebarkan Islam dengan cara damai. Tanpa kekerasan. Dari tembang hingga permainan.
Dream - Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar


Lagu itu mengalun merdu. Syair demi syair  dinyanyikan dengan indah. Mereka yang hadir di situ larut dalam keindahan itu. Mata terpejam. Tangan menengadah ke atas. Rasanya begitu tenteram. Rasanya begitu damai.

Dari lapangan Makodam Brawijaya itu, tembang ilir-ilir ini terdengar hingga jauh ke lokasi sekitar. Lapangan sepakbola itu penuh sesak. Orang tua dan anak-anak datang memadati. Hampir tak ada ruang yang kosong. Penuh dan khusyuk.

Di bagian depan berdirilah sebuah mimbar. Bersorban dan gamis putih, Habib Syeikh Assegaf khusyuk memimpin umat bershalawat. Semua jamaah tertib mengikuti setiap bait syair yang melantun dari sang habib. Syair-syair itu sungguh merdu, seperti menyebar kedamaian kepada orang-orang di sekitar.

Syair Lir Ilir itu, bagi masyarakat Jawa, sudah sering didengar. Bahkan dilantunkan. Sebelum shalat, hampir setiap masjid melantunkan syair tersebut. Syair ini adalah undangan bagi umat untuk berserah diri kepada yang Maha Kuasa.

Dan tembang ini sudah dilantukan turun-temurun. Bukan tembang baru. Dia sudah akrab di dengar masyarakat Jawa sejak ratusan tahun lalu. Dan semenjak ratusan tahun lalu itu pula, syair ini sukses menentramkan hati. Baik bagi para pelantun maupun mereka yang mendengar.

Adalah Sunan Kalijaga, ulama yang menjadi anggota majelis sembilan wali, atau akrab dikenal Walisongo, yang menemukan nada-nada indah itu. Beliau lah pencipta syair ini.

Meski terdengar sederhana, tembang Sunan Kalijaga sanggup merasuk ke dalam jiwa banyak orang. Syair-syair itu penuh makna. Sanggup mengetuk hati orang-orang yang mendengar.

***

Syair-syair itu adalah jejak bahwa Islam masuk ke tanah Jawa dengan cara yang sungguh damai. Tak ada pemaksaan. Apalagi perang penaklukan. Bertumbuhnya Islam di Jawa berkat hubungan baik antara para penyebar ajaran yang damai ini dengan para raja dari Majapahit, kerajaan yang pada masa itu menguasai nusantara.

Dan jika menulis tentang penyebaran Islam di tanah Jawa ini, sudah pastilah kita harus menyebut Walisongo. Para wali yang paling berjasa mengetarkan hati masyarakat lokal saat itu. Berjasa menyebarkan ajaran Islam.

Kata Wali itu sendiri berasal dari kata Waliullah, yang berarti ‘orang yang mencintai dan dicintai Allah’. Sedangkan dalam tradisi orang Indonesia, Sembilan wali itu dikenal sebutan Sunan. Kata Sunan, berarti “susuhunan” yang artinya orang yang amat dihormati.

Selain Sunan Kalijaga, delapan orang Walisongo lain adalah Sunan Gresik  (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim),  Sunan Drajat (Raden Qasim), Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin), Sunan Muria (Raden Umar Said) dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).

Muncul sekitar akhir abad ke 14, ajaran Walisongo sukses menyebar ke seluruh Nusantara. Dengan cara yang sangat mengugah. Padahal sebelumnya, lebih dari delapan abad, Islam kurang berkembang dengan baik di Nusantara, khususnya di tanah Jawa, yang dikenal sangat subur.

Dengan pendekatan sosio kultural yang damai, perlahan-lahan Islam mulai diterima. Dan itu berkat jasa para wali itu. Mereka tidak datang dengan kalimat “galak”,  tetapi dengan cara yang lembut. Cara yang lembut itulah yang memikat benak dan hati masyarakat.

Banyak instrumen digunakan. Seni menjadi salah satu alat meraih simpati seluas-luasnya dari masyarakat Jawa. Seni wayang, gamelan, bahkan lagu dan dolanan menjadi alat perangkul rakyat Jawa. Kekuatan dari para wali ini terletak pada kearifan dan kebijaksanaannya dalam berdakwah.

Menurut Prof.Dr. Cecep Syarifudin, para wali sukses menyebarkan Islam berkat empat jurus yang mereka gunakan. Empat jurus itu adalah Tasamuh (toleran), Tawasuth (moderat atau non ekstrim), Tawazun (keseimbangan atau harmoni), dan Iqtida' (keberpihakan pada keadilan). Dan hampir semua cara itu sukses memikat masyarakat.

***

Pendekatan kultural yang dipadu dengan cara dakwah yang bersahabat, meluluhkan hati masyarakat. Tak ada yang ikut karena terpaksa. Tapi masuk dengan penuh kesadaran. Bahkan, warisan seni para wali ini kelak hidup kekal di tanah Jawa. Warisan mereka masih hidup.

Lihatlah cara Sunan Giri mendekati masyarakat. Beliau, misalnya, juga memakai instrumen permainan anak-anak, Jelungan. Sunan Giri sadar  betul bahwa dengan Jelungan, beliau sedang memberikan dakwah kepada masyarakat.

Permainan berburu dan diburu ini biasa diiringi lagu Padang Bulan. “Padang-padang bulan, ayo gage da dolanan, dolanane naning latar, ngalap padang gilar-gilar, nundang bagog hangatikar".

Dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira begini; "Terang-terang bulan, marilah lekas bermain, bermain di halaman, mengambil manfaat dari terang benderang, mengusir gelap yang lari terbirit-birit".

Sekilas tembang ini hanyalah sebuah syair lagu biasa yang menyenangkan. Namun Sunan Giri punya pesan lain. Yakni tentang ajaran tauhid dan tawakal kepada Allah SWT.

Selain ajaran yang damai itu, kehidupan para wali ini juga meninggalkan cerita yang tak kalah menarik dan mengagumkan. Lihat saja kisah Sunan Bonang. Dikepung dan dipaksa gerombolan penjahat menyerahkan semua harta benda yang dibawa, pria ini tetap tenang. Air mukanya tetap teduh. Tak sedikit pun menunjukkan raut gentar. Sunan Bonang juga tak berniat melawan dengan kekerasan. Pria itu lebih memilih duduk bersila.

Dalam kepungan itu, dia melantunkan tembang Mocopat yang merdu. Tangannya menabuh gamelan, memainkan gending Dharma yang bertalu-talu. Senandung tembang dan gending itu seperti mengirim keteduhan kepada jiwa para pendengar.

Suara merdu itu membuat para garong mengurungkan niat berbuat jahat. Mereka terhanyut. Terbawa irama ke alam meditasi tanpa mereka sadari. “Kami menyerah, kami tobat, kami tidak akan melakukan kejahatan lagi,” tutur pemimpin gerombolan itu.

Kisah ini sangat melegenda di kalangan masyarakat Jawa. Dan cerita ini dituturkan secara turun-temurun hinga kini. Bahwa sebuah seni, bisa meluluhkan hati setiap orang yang mendengar, bahkan para garong sekalipun.

Di luar tembang dan dolanan, karya para sunan juga pelan-pelan mengubah sistem  sosial khususnya pendidikan masyarakat Jawa. Pada era inilah muncul budaya nyantri. Sebuah tempat pendidikan, di mana masyarakat tinggal dan berbaur selama masa penggemblengan.

Begitu banyak cerita yang dituturkan, baik secara lisan secara turun-temurun, maupun kajian para ilmuwan tentang para sunan ini. Dan meski mereka sudah wafat beratus tahun silam, warisan kebaikan merekalah yang kita nikmati hari-hari ini.



Dia hidup di lingkungan pesantren sejak lahir. Cucu Maharaja Majapahit terakhir ini membawa nuansa zikir dalam gamelan.