Kamis, 04 Desember 2014

DI SETIAP NAFASKU KU SEBUT NAMAN MU YA ROB..


dalam ke sunyian ku bermuhasaba..............
tak tersa air mataku tumpah sudah..
teringat akan dosa dosa ku yg tiada tara ...
ya robb.....
kepada siapa lagi ku kembali...
hanya kepada mu ya robb kami  akan kembali...
ku hany bisa berucap..ALLAH...ALLAH...ALLAH
ku harap ridhomu di segala kehidupanku...amin.

Minggu, 07 September 2014

TAHUKAH KAMU ABAU NAWAS PENYAIR JENAKA BUKAN CUMA DONGENG

Cerita 1001 malam sangat melegenda seantero dunia. Salah satu tokohnya yang terkenal, Abu Nawas disebut-sebut sebagai orang yang sangat pintar dan penuh akal. Kisahnya yang terkadang aneh menimbulkan pertanyaan, apakah Abu Nawas hanya rekaan dongeng semata?

Abu Nawas benar-benar tokoh yang pernah hidup di bawah pemerintahan khalifah Harun Al-Rasyid (Dinasti Abbasiyah). Nama aslinya Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 Hijriah [756 M dan meninggal 814 M] di Kota Ahvaz di negeri Persia (Iran).

Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sayang, ayahnya cepat berpulang sehingga Abu Nawas menjadi yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya'qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa'ad as-Samman.

Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.
 
Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Penyair khamar. Begitu Abu Nuwas dijuluki sebagian orang, karena dia mengangkat minuman haram sebagai tema puisinya. Dalam puisi khumrayat, ia menggambarkan kelezatan dan keburukannya, pemerasan, pengolahan, rasa, warna, dan baunya hingga para peminumnya. Menurutnya, khamar dapat menenangkan hatinya yang gundah.

Abu Nuwas juga sempat dituding sebagai penyair zindik atau pendosa besar gara-gara puisinya yang  sering dianggap melampaui batas kesopanan dan merendahkan ajaran agama.

Walau demikian, Abu Nawas dikenal sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana,shaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya'irul bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia.













Masuk penjara
Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.

Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.

Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.












Kamis, 04 September 2014

AKU INGIN TUA BERSAMAMU ..




dari mutiara intan
Sayang ...
Aku ingin akulah yang pertama menemukan uban di antara helai² rambutmu
dan menggaruknya ketika engkau mengeluh kulit kepalamu tiba² menjadi lebih
gatal dari biasanya. Dan ketika helai² itu semakin bertambah dengan suka cita
aku akan menyisirinya, tak perlu meminta pewarna rambut.
Sayang ... rambut kelabumu kan tampak seksi di mataku ...
Tak perlu khawatir ...
Aku siap mencarikan kacamatamu ketika kamu lupa tempat menaruhnya.
Atau akan kubuatkan sebuah kotak segala ada, tempat engkau dapat menaruh semua barang dan perkakasmu sesukanya.
Ketika malam² dingin dan rasa ingin pipis tak tertahan lagi, jangan ragu untuk membangunkanku. Sayang ... ini tanganku di sampingmu jangan ragu jadikan tanganku sebagai peganganmu yaa ...
Sayang ...
Aku tidak menginginkan yang muluk². Aku ingin mendampingi masa tuamu,
Aku ingin tua di sampingmu, bersamamu ...
Sehat, sehatlah sayang ...
Agar engkau juga sempat meraba kepalaku yang ditumbuhi uban,
agar sempat aku memamerkan gigiku yang mulai tanggal.
Sehat, sehatlah sayang ...
Agar ketika kita tua, kita masih sanggup menemani anak cucu kita bermain bersama. Atau sekedar mengunjungi mereka saat hari libur tiba. Kupikir lebih
baik kita saja yang mengunjungi mereka sambil membawakan makanan kesukaan mereka. Mungkin nanti anak cucu kita akan lebih sibuk dari hari² sibuk yang kita jalani sekarang. Kita akan jadi orang tua yang paling pengertian, ya kan Sayang ...??
Sayang ...
Aku ingin tetap mesra bersamamu hingga tua. Tetap membisikkan kata cinta,
meski pendengaran kita semakin berkurang. Jangan malu untuk sedikit berteriak
di telingaku ya ...?! Kau tahu, aku sangat suka mendengarkan ungkapan sayangmu.
Ku ingin kita ...
Tetap saling memanja, semampu tenaga yang masih kita miliki. Anak, cucu, ponakan dan keluarga kita pasti akan menyangi kita berdua, tapi percayalah aku yang paling tau cara memanjakanmu demikian engkau yang paling tau cara memantik binar di mataku.
Bila waktu memang menggerus banyak hal ...
Bila usia memang mengikis banyak hal ...
Aku berharap, semoga itu bukan cinta dan kasih sayang kita.
Bila memang tiada yang abadi ...
Bila memang semua akan berakhir...
Bila memang semua akan terhenti ...
Aku berharap, sepanjang waktu yang kita miliki, temani aku untuk melakukan yang terbaik untuk cinta yang kita punya. Menjadikan cinta dan hubungan yang kita bina sebagai anugerah paling indah dan paling berharga.
Apapun boleh berhenti, tapi tidak dengan niatan tulus untuk saling mengasihi.
Apapun boleh usai, tapi tidak dengan upaya gigih untuk saling mejaga,
upaya gigih untuk saling membahagiakan.
Sayang ...
Hari ini, menit ini, detik ini, aku seperti bisa menatap proyektor besar tak bertepi, memutar film tak berjudul yang kita perankan, ada dua tangan keriput yang saling menggenggam. Tanganku dan tanganmu.
Tapi ketika adegan berganti, saat film hampir usai, aku tak sanggup lagi menatapnya, semua menjadi kabur dan basah oleh Air Mata.

Minggu, 29 Juni 2014

marhaban ya ramadhan....

semga di bulan ramadhan ini allah memaafkan segala dosa dan khilafku.mgabulkan semua keinginan dan cita citaku..di lancarka rizqi  dan di terangi jalanku dengan NURNYA..amin

Selasa, 01 April 2014

MISTERI PROYEK PLTU GAJAH MINGKUR

tahun 1942 awal dari semua peristiwa yang memakan korban ratusan jiwa manusia anak bangsa indonesia ..sejenak aku terharu atas semua penuturan mbak  " SABERI " dengan semnagatnya ia cerita pada masa masa penjajahan jepang ke Lumajang dimana dia jadi pekerja romusa beserta teman teman lainya ...
Java Dengki naman daerah itu diman disitu tiap harinya sibuk dengan pembuatan goa yang menembus tiga bukit beasar ...saat pembuat goa itu tak jarang para romusa tertimbun longsoran tanah goa yg di bom oleh pasukan jepang..

Kamis, 20 Maret 2014

MISTERI KOTA LAMAJANG KUNO



Temuan Benda Bersejarah di Kec. Kunir, Kab. Lumajang

Benda-benda bersejarah kembali ditemukan seorang warga dari Dusun Sidomulyo RT/RW 05/06, Desa Karanglo, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang. Temuan ini semakin memperkuat jika pada zaman dahulu, Lumajang menjadi pusat perdaban besar.
Mistari (58) tidak pernah bermimpi atau ada satu firasat khusus atas temuan barang bersejarah yang didapat pada Selasa (12/11) siang. Warga Dusun Sidomulyo RT/RW 05/06, Desa Karanglo, Kecamatan Kunir ini niat awalnya hendak  membuat tempat pembuangan kotoran sapi di pekarangan rumahnya.
Belum juga dalam dia menggali tanah, cangkulnya menumbuk pada satu benda keras. Mistari pun jadi curiga. Dengan hati-hati dikeruk tanh dengan tangan. Dan tampaklah sebuah benda berbentuk wadah sesaji.
Temuan ini membuat heran dan terkejut Mistari, kemudian mencoba dengan hati-hati dikeruk tanah disekitarnya. Hasilnya ditemukan berupa tempat lampu, wadah perunggu, paidon, wadah sesaji, mangkok semuanya berjumlah 8 buah. Untuk lampu kuno ada tiga dengan ukuran yang berbeda.
Barang yang ditemukan dan mengandung nilai sejarah tinggi ini, oleh Mistari diserahkan  kepada Polsek Kunir. Untuk sementara diamankan di Kantor Polsek Kunir. 
Menurut Sekretaris Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur, Lutfi Amerta Sanjiwani, S. Sos, temuan ini jadi bukti jika pada jamannya di Kabupaten Lumajang atau dahulu di kenal dengan Lamajang pernah menjadi pusat perabadan besar.
"Kita dapat menemukan beberapa penggalan-penggalan kosong yang sementara ini hilang dalam merangkai sejarah peradaban kerajaan Lamajang Tigang Juru yang dipimpin oleh Arya Wiraraja," kata Lutfi Alumnus Universitas Negri Malang.

Dikatakan, sebuah kerajaan besar sebagai penyeimbang. Kerajaan belahan Majapahit atau Majapahit Timur yang berpusat di Arnon (Situs Biting sekarang) selain meninggalkan bangunan-banguna yang bahannya terbuat dari batu bata merah, seperti kawasan perbentengan di Situs Biting, percandian di Kedungmoro, Candi Gedong Putri di Candipuro dan Candi Agung di Randu Agung.       

kerajaan Lamjang Tigang Juru pada Arya Wiraraja yang bernama muda Banyak Wide yang mempunyai arti Brahmana yang cerdik telah banyak meninggalkan jejak-jejak peradaban. Beberapa Wanua (kota) juga berkembang di masa kepemimpinannya salah satunya adalah di Kecamatan Kunir," terangnya. 
Di masa lampau, jelas Lutfi, Kunir memiliki peranan yang cukup penting dalam perkembangan di Kerajaan Lamajang Tigang Juru, keberadaanya ditepi pantai selatan juga menjadi salah satu faktor Kunir menjadi kawasan yang berkembang dan padat penduduk.
"Hal ini didukung beberapa penemuan benda-benda purbakala. Seperti yang beberapa waktu yang lalu ditemukan struktur candi di Dusun Kedungsari, Desa Kedungmoro yang merupakan kompleks percandian. Benda-benda purbakala yang ditemukan Pak Mistari menjadi bukti kebesaran Lamajang di masa lalu," pungkasnya.(ron/pat/yoc)

Minggu, 12 Januari 2014

lama tak tulis menulis



Cermin tak pernah berdusta

cermin yang biasa ku pandangi di setiap hari
sekali lagi membiaskan bayangan diri
wajah ini, mata ini tempat sgala rasa bermula
dan tindakan akhir segala cita

apakah diriku ini kan bercahaya bersinar di surga Mu
menatap penuh rindu
ataukah diriku ini kan hangus legam terbakar dalam nyala
di neraka membara...

sungguh berbeda yang nampak dan yang tersembunyi
hanya kepalsuan menipu topeng belaka
diri ini, tubuh ini hati yang merajai diri
tlah bersalah ku mau melangkah

cermin tak pernah berdusta
yang indah topeng semata
ya allah aku malu tlah tertipu
ampuni hamba sebelum akhir waktu

kemanakah diriku ini berakhir
di surga atau di neraka Mu
aku tak kan mampu

apakah diriku ini kan bercahaya bersinar di surga Mu
menatap penuh rindu
ataukah diriku ini kan hangus legam terbakar dalam nyala
di neraka membara...

selamatkan aku...

kemanakah diriku ini berakhir
di surga atau di neraka Mu
aku tak kan mampu
amin ya rabbal alaamiin