Selasa, 01 Agustus 2017

Lirik Lagu Rahman Ya Rahman Syeikh Mishari Rasyid Alafasi (Dengan Latin dan Terjemah)



Rahman, ya Rahman
ساعدني يا رحمن
Sa'idni Ya Rahman
bantulah aku..Yang Maha Penyayang
اشرح صدري قرآن
Israh Shodri Qur'an
penuhi hati ini ( dengan cinta) dari Al-Qur’an
أملأ قلبي قرآن
Imlak Qolbi Qur'an
lapangkan dadaku hanya untuk Al-Qur’an
واسقي حياتي قرآن
Wasqi Hayati Qur'an
Sirami hidupku dengan Al-Qur’an .

لله لله يهفو أملي لله
Lillah Lillah
hanya untuk Allah, begitu mendalam keinginanku
karena Allah…
Yahfu amalilillah
ولحفظِ كتابِ الله
Walihifdhi Kitabillah
bisakah aku mempelajari Al-Qur’an
من أولِ باسم ِ الله
Min Awwali Bismillah
dimulai dengan “Bismillah…”
للختم وللرضوان
Lil Khotmil Wa Lirridwan
hingga penutupan (Al-Qur’an) dan berhasil (Tamat)….

يا نور يا نور
Ya Nur Ya Nur
Cahaya…wahai cahaya..
يا مــُـحكم يا تنزيل
Ya Muhkamu Ya Tanzir
Al-Qur’an diturunkan kepada yang “terpilih”
لمحمد عن جبريل
Li Muhammad Ya'an Jibril
untuk Muhammad (SAW), melalui Jibril
من رب العرش دليل
Min Rabbil 'Arsyidnil
dalam lindungan dan bimbingan Allah Ta’ala
للعالم والأنسان
Lil 'alami Wal Insan
bagi semesta alam dan manusia

تكبير تكبير
Takbir Takbir
bertakbirlah…..bertakbirlah
للحافظِ وهو صغير
lil Hafidi Wahwa Shogir

untuk itu, …siapakah yang telah belajar Al-Quran….sedari kecil…
وضـّاء العين قرير
Wadhoul'aini Qoriir
mata menerangi dengan ketenangan dan kedamaian…
يحملُ فجراً ليــُـنير
Yahmilu Fajro Liyuniir
bersinar…laksana cahaya subuh…
بتلاوته الأكوان
Bitilawatil Akwar
dan alam semesta yang diperkaya dengan ayat2NYA….

الله الله اللهم اجمعنا
Allah Allah Allahummaj'ma'ana
wahai Allah, kumpulkanlah kami bersama
بكتابك و انفعنا
Bikitabika Wakhfa'na
satu Panduan, dan membuatnya menjadi manfaat bagi sesama
واجعله لنا حصنا
Waj'alhulana Hishda
menjadi benteng/pertahanan kita
وهدى أبدا وأمان
Wahudana Abadan Waman
penenang dan pembimbing kita yang kekal abadi…

lestari budayaku..lestari alamku

Canang sari inggih punika sarin kasucian kayun bhakti ring hiyang widhi tunggal.Napkala Kahiwangan kahiwangan
Canang sari yaitu inti niat dan pemikiran yg suci sebagai tanda bhakti / hormat pada sanghyang widhi ketika ada kekurangan saat sedang menuntut ilmu kerohanian
( lontar Mpu Lutuk Alit )
Bicara masalah budaya bali , tidak akan terlepas dari agama hindu yg dianut mayoritsa masyarakat bali. dalam mempersiapkan sarana persembahyangan yg antara lain . api.air.bunga .buah .daun dalam budaya bali konsep ini kemudian di praktekan dalam wujud seni salah satunya adala keanekaragaman bentuk sesajen

Kamis, 12 Januari 2017

" MENGHORMATI TAMU "









Iman memiliki sekian banyak cabang. Salah satunya adalah memulyakan tamu. Ikromudloif min syuabil iman. Kita mengenal seorang Nabi yang pada akhirnya mendapat predikat sebagai kholilullah (kekasih Allah). Sebab ia adalah seorang Nabi yang amat gemar melayani tamu. Bahkan ia rela untuk berjalan sekian mil untuk mencari orang yang mau menjadi tamunya. Ialah Nabi Ibrahim. Seorang Nabi yang semestinya kita jadikan teladan dalam masalah menghormati tamu.
Kedatangan tamu padahal biasanya demikian membuat repot. Repot waktu, tenaga, dll. Apalagi jika tamu itu harus menginap. Sementara kita tahu bahwa sifat dasar manusia pada umumnya tidak suka direpoti. Namun jika kita mau untuk direpoti, maka kita termasuk orang yang berhasil mengamalkan ayat “wa ahsin kama ahsanallahu ilaik”. Dan berbuat baiklah seperti Allah telah berbuat baik kepadamu. Sebuah cara mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Dan jika kita mau amati, diantara sekian cabang-cabang iman yang jumlahnya tujuhpuluhan itu, berbuat baik kepada orang lain (al-ihsan ilal ghoir) dalam berbagai bentuknya merupakan cabang iman yang paling banyak.
Dalam memulyakan tamu yang paling penting adalah dengan tholaqotul wajhi, berwajah cerah dan ceria. Dengan perkataan yang menyenangkan. Menyuguhkan suguhan kepada tamu. Dan juga berusaha menyenangkan tamu. Tentu saja memulyakan tamu tetap dengan kadar kemampuan. Entah apa yang kita punya semestinya kita suguhkan kepada tamu. Dan jika saja tamu yang bertandang itu adalah tamu yang banyak menghabiskan makanan maka kita tidak perlu ada perasaan menyesal dalam menemuinya.
Menjadi seorang kyai harus pintar dalam memulyakan tamu. Jika dulu ketika masih santri kita belajar mati-matian sampai punggung putus. Maka dikala telah menjadi kyai, kita juga mesti berusaha menebar manfaat dan berkhidmah kepada ummat sampai punggung putus. Kapan saja ummat membutuhkan, pada saat itu kita siap. Entah berapa orang saja ditiap hari silaturrahim dan bertamu di rumah kita, kita mesti melayaninya semampu kita. Lamma kunta tholiban qushima zhohruk wa lamma kunta aliman qushima zhohruk.
Seseorang ada yang suka mendapatkan tamu ada juga yang tidak. Tapi pada prinsipnya, tamu membawa rizqi, baik secara fisik ataupun non fisik. Allah ta’ala siap mengganti apa yang kita keluarkan untuk memulyakan tamu. Sehingga hidup kita akan ringan, lancar dan berkah. Ini bisa kita dapatkan dengan kesediaan di repoti oleh orang lain.
Setelah bertamu, si tamu semestinya berdoa minimal dengan akromakumulloh, atau yang lebih panjang yakni doa: akala tho’amakumul Abror wa shollat alaikumul malaikatul akhyar. dan semestinya doa seperti ini dibudayakan.
Orang jawa memiliki karakter sungkan sehingga dalam bertamu mesti harus di persilahkan dulu berkali-kali. Padahal tanpa dipersilahkan kita sudah boleh untuk memakannya.
Termasuk dari cara menyenangkan tamu adalah mengantarkan tamu sampai ke pintu atau kalau perlu sampai ke pagar.
Dalam percakapan dalam menemuinya, kita harus memastikan bahwa apa yang akan dibicarakan ada manfaatnya. Maka perlu dipikirkan terlebih dahulu apakah pembicaraan kita berfaedah atau sia sia, menyenangkan atau justru menyakitkan. Man hasiba kalamahu min amalih, qolla kalamuhu illa fima ya’nih. Maka kita harus berusaha menyadari bahwa apa yang kita ucapkan adalah amal kita. Sehingga kita bisa lebih menjaga apa yang kita ucapkan.
Dan kita mengerti bahwa jenis lisan demikian beragam, ada yang hanya bisa bicara ya dan tidak, ada yang banyak bicara tanpa memberikan kesempatan bicara pada orang lain, dan ada pula yang bicara dan mendengarkan dalam porsi yang sama. Maka menemui tamu mesti kita yang harus pandai menyesuaikan. Jika tamu banyak bicara, maka bagaimana kita menjadi pendengar yang baik. Dan jika tamu tak banyak bicara, bagaimana membuatnya tetap merasa enjoy, tidak merasa sungkan.
Semoga Bermanfaat
Wallahu yatawallal jami’a biriayatih.

Selasa, 12 April 2016



Tanda 40 Hari Menjelang Kematian, Seseorang Akan Mengalami Hal ini, Tapi Kebanyakan Tak Menyadarinya




40 Hari Menjelang Kematian, Seseorang Akan Mengalami Hal ini, Tapi Kebanyakan Tak Menyadarinya
Saudaraku,,, Setiap manusia akan mengalami yang namanya kematian. Hal yang tak diketahui hanyalah waktu datangnya, karena itu merupakan rahasia Allah SWT. Akan tetapi, walaupun kematian tak diketahui datangnya kapan, sebelum kematian itu datang akan ada tanda-tanda yang mungkin dapat kita ketahui.
Hanya saja biasanya seseorang tidak dapat menyadarinya.
Inilah beberapa tanda, lebih spesifik 40 hari sebelum kematian menjemput, seseorang akn mengalami tanda-tanda seperti dibawah ini:
Pertama: 40 hari menuju kematian
Tanda-tanda kematian ini juga muncul setelah masuk waktu asar, bagian pusat dari tubuh kita akan berdenyut. Itu pertanda bahwa daun yang tertulis nama kita dari pohon yang terletak di Arshy Allah swt. Telah gugur.
Lalu malaikat maut mengambil daun tersebut dan segera membuat persiapan diantaranya mulai mengawasi kita setiap saat.
Dan sesekali malaikat maut menampakkan dirinya kepada orang yang akan dicabut nyawanya dalam wujud manusia, dan seketika itu pula orang itu akan terasa terkejud dan bingung melihat malaikat maut.
Walaupun malaikat maut wujudnya hanya satu tapi atas izin Allah swt, Dia mampu mencabut nyawa seseorang dalam waktu yang bersamaan.
Kedua: 7 hari ketika kematian akan datang
Tanda ini muncul setelah masuk waktu asar, tanda-tanda kematian ini hanya diberikan Allah swt Terhadap orang yang diuji Allah dengan Sakit, biasanya orang yang sedang sakit tak berselera makan, tiba-tiba ingin makan. Ini merupakan isyarat dari Allah bahwa kematian memang benar-benar sudah dekat.
Ketiga: 3 hari, kematian diambang pintu
Pada suatu saat akan terasa denyutan di tengah dahi kita, yaitu antara dahi kanan dan dahi kiri. Jika tanda-tanda kematian ini dapat dirasakan maka sebaiknya berpuasalah kita setelah itu. Supaya perut kita tak mengandung banyak najis, dan ini akan memudahkan orang lain utk memandikan jasad kita.
Setelah itu pula mata hitam kita tak bersinar lagi, dan bagi orang yg sakit, hidungnya perlahan akan masuk ke dalam, ini dapat terlihat jelas kalau dilihat dari sisi tubuh kita. Telinga akan layu dan berangsur-angsur masuk ke dalam.
Tapak kaki tegak berangsur-angsur lurus ke depan dan sukar untuk ditegakkan lagi.
Keempat: Sehari sebelum kematian
Tanda-tanda kematian ini juga terjadi setelah waktu ashar, kita akan merasakan denyutan di bagian ubun-ubun, ini menandakan kita sudah tak sempat lagi melihat waktu ashar di keesokan harinya.
Kelima: Tanda terakhir, Kematian Menghampirimu.!
Kita akan merasakan sejuk di bagian pusat, lalu turun ke pinggang dan akan terus naik ke bagian halkum.
Pada masa ini hendaknya kita sering beristighfar memohon ampun pada Allah, dan sering-sering membaca syahadat. Menata hati, memfokuskan fikiran kita hanya kepada satu arah yaitu Allah swt.
Dengan demikian semoga dengan sedikit pengetahuan menjelang kematian, kita punya kesiapan untuk menghadapinya. Namun begitu, semuanya kembali kepada Allah, maka berdoalah agar kita dapat menyadari tanda yang diberikan oleh-Nya supaya siap di Ajal kelak. Wallahu a’lam.
Bagikan kepada yang lain, semoga bermanfaat. Aamiin

Rabu, 03 Februari 2016

pesan dari lek hammad



Kamis, 23 April 2015

KISAH JEJAK WALI SONGO





Menyebarkan Islam dengan cara damai. Tanpa kekerasan. Dari tembang hingga permainan.
Dream - Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar


Lagu itu mengalun merdu. Syair demi syair  dinyanyikan dengan indah. Mereka yang hadir di situ larut dalam keindahan itu. Mata terpejam. Tangan menengadah ke atas. Rasanya begitu tenteram. Rasanya begitu damai.

Dari lapangan Makodam Brawijaya itu, tembang ilir-ilir ini terdengar hingga jauh ke lokasi sekitar. Lapangan sepakbola itu penuh sesak. Orang tua dan anak-anak datang memadati. Hampir tak ada ruang yang kosong. Penuh dan khusyuk.

Di bagian depan berdirilah sebuah mimbar. Bersorban dan gamis putih, Habib Syeikh Assegaf khusyuk memimpin umat bershalawat. Semua jamaah tertib mengikuti setiap bait syair yang melantun dari sang habib. Syair-syair itu sungguh merdu, seperti menyebar kedamaian kepada orang-orang di sekitar.

Syair Lir Ilir itu, bagi masyarakat Jawa, sudah sering didengar. Bahkan dilantunkan. Sebelum shalat, hampir setiap masjid melantunkan syair tersebut. Syair ini adalah undangan bagi umat untuk berserah diri kepada yang Maha Kuasa.

Dan tembang ini sudah dilantukan turun-temurun. Bukan tembang baru. Dia sudah akrab di dengar masyarakat Jawa sejak ratusan tahun lalu. Dan semenjak ratusan tahun lalu itu pula, syair ini sukses menentramkan hati. Baik bagi para pelantun maupun mereka yang mendengar.

Adalah Sunan Kalijaga, ulama yang menjadi anggota majelis sembilan wali, atau akrab dikenal Walisongo, yang menemukan nada-nada indah itu. Beliau lah pencipta syair ini.

Meski terdengar sederhana, tembang Sunan Kalijaga sanggup merasuk ke dalam jiwa banyak orang. Syair-syair itu penuh makna. Sanggup mengetuk hati orang-orang yang mendengar.

***

Syair-syair itu adalah jejak bahwa Islam masuk ke tanah Jawa dengan cara yang sungguh damai. Tak ada pemaksaan. Apalagi perang penaklukan. Bertumbuhnya Islam di Jawa berkat hubungan baik antara para penyebar ajaran yang damai ini dengan para raja dari Majapahit, kerajaan yang pada masa itu menguasai nusantara.

Dan jika menulis tentang penyebaran Islam di tanah Jawa ini, sudah pastilah kita harus menyebut Walisongo. Para wali yang paling berjasa mengetarkan hati masyarakat lokal saat itu. Berjasa menyebarkan ajaran Islam.

Kata Wali itu sendiri berasal dari kata Waliullah, yang berarti ‘orang yang mencintai dan dicintai Allah’. Sedangkan dalam tradisi orang Indonesia, Sembilan wali itu dikenal sebutan Sunan. Kata Sunan, berarti “susuhunan” yang artinya orang yang amat dihormati.

Selain Sunan Kalijaga, delapan orang Walisongo lain adalah Sunan Gresik  (Maulana Malik Ibrahim), Sunan Ampel (Raden Rahmat), Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim),  Sunan Drajat (Raden Qasim), Sunan Kudus (Ja'far Shadiq), Sunan Giri (Raden Paku atau Ainul Yaqin), Sunan Muria (Raden Umar Said) dan Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah).

Muncul sekitar akhir abad ke 14, ajaran Walisongo sukses menyebar ke seluruh Nusantara. Dengan cara yang sangat mengugah. Padahal sebelumnya, lebih dari delapan abad, Islam kurang berkembang dengan baik di Nusantara, khususnya di tanah Jawa, yang dikenal sangat subur.

Dengan pendekatan sosio kultural yang damai, perlahan-lahan Islam mulai diterima. Dan itu berkat jasa para wali itu. Mereka tidak datang dengan kalimat “galak”,  tetapi dengan cara yang lembut. Cara yang lembut itulah yang memikat benak dan hati masyarakat.

Banyak instrumen digunakan. Seni menjadi salah satu alat meraih simpati seluas-luasnya dari masyarakat Jawa. Seni wayang, gamelan, bahkan lagu dan dolanan menjadi alat perangkul rakyat Jawa. Kekuatan dari para wali ini terletak pada kearifan dan kebijaksanaannya dalam berdakwah.

Menurut Prof.Dr. Cecep Syarifudin, para wali sukses menyebarkan Islam berkat empat jurus yang mereka gunakan. Empat jurus itu adalah Tasamuh (toleran), Tawasuth (moderat atau non ekstrim), Tawazun (keseimbangan atau harmoni), dan Iqtida' (keberpihakan pada keadilan). Dan hampir semua cara itu sukses memikat masyarakat.

***

Pendekatan kultural yang dipadu dengan cara dakwah yang bersahabat, meluluhkan hati masyarakat. Tak ada yang ikut karena terpaksa. Tapi masuk dengan penuh kesadaran. Bahkan, warisan seni para wali ini kelak hidup kekal di tanah Jawa. Warisan mereka masih hidup.

Lihatlah cara Sunan Giri mendekati masyarakat. Beliau, misalnya, juga memakai instrumen permainan anak-anak, Jelungan. Sunan Giri sadar  betul bahwa dengan Jelungan, beliau sedang memberikan dakwah kepada masyarakat.

Permainan berburu dan diburu ini biasa diiringi lagu Padang Bulan. “Padang-padang bulan, ayo gage da dolanan, dolanane naning latar, ngalap padang gilar-gilar, nundang bagog hangatikar".

Dalam bahasa Indonesia artinya kira-kira begini; "Terang-terang bulan, marilah lekas bermain, bermain di halaman, mengambil manfaat dari terang benderang, mengusir gelap yang lari terbirit-birit".

Sekilas tembang ini hanyalah sebuah syair lagu biasa yang menyenangkan. Namun Sunan Giri punya pesan lain. Yakni tentang ajaran tauhid dan tawakal kepada Allah SWT.

Selain ajaran yang damai itu, kehidupan para wali ini juga meninggalkan cerita yang tak kalah menarik dan mengagumkan. Lihat saja kisah Sunan Bonang. Dikepung dan dipaksa gerombolan penjahat menyerahkan semua harta benda yang dibawa, pria ini tetap tenang. Air mukanya tetap teduh. Tak sedikit pun menunjukkan raut gentar. Sunan Bonang juga tak berniat melawan dengan kekerasan. Pria itu lebih memilih duduk bersila.

Dalam kepungan itu, dia melantunkan tembang Mocopat yang merdu. Tangannya menabuh gamelan, memainkan gending Dharma yang bertalu-talu. Senandung tembang dan gending itu seperti mengirim keteduhan kepada jiwa para pendengar.

Suara merdu itu membuat para garong mengurungkan niat berbuat jahat. Mereka terhanyut. Terbawa irama ke alam meditasi tanpa mereka sadari. “Kami menyerah, kami tobat, kami tidak akan melakukan kejahatan lagi,” tutur pemimpin gerombolan itu.

Kisah ini sangat melegenda di kalangan masyarakat Jawa. Dan cerita ini dituturkan secara turun-temurun hinga kini. Bahwa sebuah seni, bisa meluluhkan hati setiap orang yang mendengar, bahkan para garong sekalipun.

Di luar tembang dan dolanan, karya para sunan juga pelan-pelan mengubah sistem  sosial khususnya pendidikan masyarakat Jawa. Pada era inilah muncul budaya nyantri. Sebuah tempat pendidikan, di mana masyarakat tinggal dan berbaur selama masa penggemblengan.

Begitu banyak cerita yang dituturkan, baik secara lisan secara turun-temurun, maupun kajian para ilmuwan tentang para sunan ini. Dan meski mereka sudah wafat beratus tahun silam, warisan kebaikan merekalah yang kita nikmati hari-hari ini.



Dia hidup di lingkungan pesantren sejak lahir. Cucu Maharaja Majapahit terakhir ini membawa nuansa zikir dalam gamelan.