Iman memiliki sekian banyak cabang. Salah satunya adalah memulyakan tamu.
Ikromudloif min syuabil iman. Kita mengenal seorang Nabi yang pada akhirnya
mendapat predikat sebagai kholilullah (kekasih Allah). Sebab ia adalah seorang
Nabi yang amat gemar melayani tamu. Bahkan ia rela untuk berjalan sekian mil
untuk mencari orang yang mau menjadi tamunya. Ialah Nabi Ibrahim. Seorang Nabi
yang semestinya kita jadikan teladan dalam masalah menghormati tamu.
Kedatangan tamu padahal biasanya demikian membuat repot. Repot waktu,
tenaga, dll. Apalagi jika tamu itu harus menginap. Sementara kita tahu bahwa
sifat dasar manusia pada umumnya tidak suka direpoti. Namun jika kita mau untuk
direpoti, maka kita termasuk orang yang berhasil mengamalkan
ayat “wa ahsin
kama ahsanallahu ilaik”. Dan berbuat baiklah seperti Allah telah
berbuat baik kepadamu. Sebuah cara mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Dan
jika kita mau amati, diantara sekian cabang-cabang iman yang jumlahnya
tujuhpuluhan itu, berbuat baik kepada orang lain (al-ihsan ilal ghoir) dalam
berbagai bentuknya merupakan cabang iman yang paling banyak.
Dalam memulyakan tamu yang paling penting adalah dengan
tholaqotul wajhi, berwajah cerah dan ceria.
Dengan perkataan yang menyenangkan. Menyuguhkan suguhan kepada tamu. Dan juga
berusaha menyenangkan tamu. Tentu saja memulyakan tamu tetap dengan kadar
kemampuan. Entah apa yang kita punya semestinya kita suguhkan kepada tamu. Dan
jika saja tamu yang bertandang itu adalah tamu yang banyak menghabiskan makanan
maka kita tidak perlu ada perasaan menyesal dalam menemuinya.
Menjadi seorang kyai harus pintar dalam memulyakan tamu. Jika dulu ketika
masih santri kita belajar mati-matian sampai punggung putus. Maka dikala telah
menjadi kyai, kita juga mesti berusaha menebar manfaat dan berkhidmah kepada
ummat sampai punggung putus. Kapan saja ummat membutuhkan, pada saat itu kita
siap. Entah berapa orang saja ditiap hari silaturrahim dan bertamu di rumah
kita, kita mesti melayaninya semampu kita.
Lamma kunta tholiban qushima zhohruk wa lamma kunta
aliman qushima zhohruk.
Seseorang ada yang suka mendapatkan tamu ada juga yang tidak. Tapi pada
prinsipnya, tamu membawa rizqi, baik secara fisik ataupun non fisik. Allah
ta’ala siap mengganti apa yang kita keluarkan untuk memulyakan tamu. Sehingga
hidup kita akan ringan, lancar dan berkah. Ini bisa kita dapatkan dengan
kesediaan di repoti oleh orang lain.
Setelah bertamu, si tamu semestinya berdoa minimal
dengan
akromakumulloh,
atau yang lebih panjang yakni doa:
akala tho’amakumul Abror wa shollat alaikumul malaikatul
akhyar. dan semestinya doa
seperti ini dibudayakan.
Orang jawa memiliki karakter sungkan sehingga dalam bertamu mesti harus di
persilahkan dulu berkali-kali. Padahal tanpa dipersilahkan kita sudah boleh
untuk memakannya.
Termasuk dari cara menyenangkan tamu adalah mengantarkan tamu sampai ke
pintu atau kalau perlu sampai ke pagar.
Dalam percakapan dalam menemuinya, kita harus memastikan bahwa apa yang akan
dibicarakan ada manfaatnya. Maka perlu dipikirkan terlebih dahulu apakah
pembicaraan kita berfaedah atau sia sia, menyenangkan atau justru menyakitkan.
Man hasiba
kalamahu min amalih, qolla kalamuhu illa fima ya’nih. Maka kita harus berusaha
menyadari bahwa apa yang kita ucapkan adalah amal kita. Sehingga kita bisa
lebih menjaga apa yang kita ucapkan.
Dan kita mengerti bahwa jenis lisan demikian beragam, ada yang hanya bisa
bicara ya dan tidak, ada yang banyak bicara tanpa memberikan kesempatan bicara
pada orang lain, dan ada pula yang bicara dan mendengarkan dalam porsi yang
sama. Maka menemui tamu mesti kita yang harus pandai menyesuaikan. Jika tamu
banyak bicara, maka bagaimana kita menjadi pendengar yang baik. Dan jika tamu
tak banyak bicara, bagaimana membuatnya tetap merasa enjoy, tidak merasa
sungkan.
Semoga Bermanfaat
Wallahu yatawallal jami’a biriayatih.